Rabu, 06 April 2016

Shirt and Tie Cake

Ini kali ke-2 saya mengerjakan 3D cake berbungkus fondant. Sebelumnya saya pernah membuat 3D cake berbentuk VW car untuk ulang tahun Alvin anak sulung saya.. untuk yang belum tahu, bisa dilihat di sini. Kali ini 3D cake berbentuk kemeja berdasi dibuat untuk memenuhi orderan dari seorang pelanggan setia yang sudah beberapa kali order kue kepada saya. Ceritanya shirt n' tie cake ini dipesan sebagai hadiah ulang tahun untuk suaminya.

 Ini dia penampakan kuenya...



Kekurangannya ada pada huruf di label bertuliskan "BOSS". Terlihat tidak rapih. Begitulah kalau kurang persiapan. Memang sejujurnya peralatan dekorasi cake saya memang belum lengkap terutama untuk fondant..mungkin karena saya terbiasa menggunakan buttercream saja jadi cutter atau alat pencetak huruf pun saya belum punya..hehe. Untungnya pelanggan setia saya ini orang yang baik, dia tidak komplain bahkan malah memuji, katanya kuenya enak dan bentuk kue sesuai dengan permintaannya.. Alhamdulilaaah... :)

Orderan kali ini benar-benar menjadi pelajaran untuk saya agar lebih luwes lagi bermain fondant dan tentunya saya akan melengkapi peralatan yang belum saya punya, supaya orderan akan lebih sempurna hasilnya. yg mau order 3D cake jangan khawatir.. krn sekarang peralatan yang saya miliki sudah lebih lengkap, jadi jangan takut ngorder yaa..insha Allah tidak akan mengecewakan.

Minggu, 17 Januari 2016

Jagung Manis Susu Keju Camilan Favorit Alvin


Camilan jagung ini mudah ditemui di mall-mall atau pusat perbelanjan di kota-kota besar, bahkan saya dengan mudah menjumpainya di komplek perumahan saya sendiri yang jauh dari jalan raya. Rata-rata untuk rasa susu keju penjual memberi harga Rp.10.000,-. Sering kali anak sulung saya Alvin merengek meminta dibelikan. Namun untuk alasan kesehatan dan penghematan tentunya saya lebih memilih untuk membuatnya sendiri di rumah. Ya, dengan bahan yang mudah didapat rasanya tidak ada salahnya untuk membuat sendiri, bahkan kita bisa memilih bahan-bahan yang berkualitas. Langsung saja, saya akan membagikan resepnya yang sangat mudah, bahkan anak kecil pun mungkin bisa membuatnya.

Jagung Manis Susu Keju

Bahan: - 2 bonggol jagung manis yang masih muda
- air untuk merebus jagung
- garam secukupnya
- susu kental manis
- keju cheddar parut
- butter atau margarine

Cara: - Rebus jagung, setelah terlihat hampir matang masukan garam dalam air rebusan lalu biarkan sebentar lagi. Tujuan pemberian garam untuk memberikan rasa gurih pada jagung.
- Setelah jagung matang, panas-panas langsung pipil jagung, bisa menggunakan pisau atau tangan jika tahan panas, hehe.. Kebetulan saya menggunakan Smile Mom pemipil jagung jadi lebih praktis.
 - Setelah dipipil, beri butter dan aduk rata.
- Kemudian beri susu kental manis sesuai selera dan parut keju di atasnya.
 - Jagung Manis Susu Keju pun siap dinikmati

Jika suka pedas bisa juga dikreasikan dengan menambahkan sambal botolan dan saus tomat, untuk yang satu ini pemakaian susu kental manis sebaiknya diskip. 

Mudah bukan? Jadi, segera buatkan untuk anak-anak anda tercinta pasti mereka suka. 

Selamat berkreasi.. :)

Senin, 11 Mei 2015

ROTI CANAI

Weekend paling seru kalau dinner di luar sambil menikmati suasana malam minggu bareng suami, mengenang masa-masa pacaran. Romantis ceritanyee.. tapi kalau sudah punya 2 buntut dan yang satu masih bayi jelas ga boleh egois donk..apalagi cuaca sedang mendung jadi suasana malam minggu yang spesial itu mau ga mau dilakukan di rumah aja bareng anak-anak.

Meskipun di rumah tapi ga ada cerita kita ga bisa makan enak, berpikir kreatif itu penting untuk ibu rumah tangga. Seminggu sekali boleh donk masak sesuatu yang beda, demi menyenangkan suami dan lidah sendiri tentunya. 

Weekend lalu sempat ngiler liat gambar roti cane plus kari daging di kedai yang menjual masakan khas Aceh dekat RS Hermina Bogor, tapi sudah terlanjur pesan mie Aceh jadi cukup nelan ludah saja sambil mupeng. Berhubung bahan-bahan ada semua dan siangnya sempat bikin kare sapi ala India yang super nampol pedesnya, jadilah saya nekad juga bikin roti cane di sore hari ba'da Ashar. Kebetulan sang misua udah pulang jadi bisa nitip si kecil beserta abangnya.

Saya dapatkan resepnya dari hasil browsing sana sini, sampai lupa catat sumbernya tapi rata-rata dari blog-blog yang saya kunjungi resepnya tidak jauh berbeda. Saya tuliskan di bawah resep yang saya pakai.



ROTI CANAI

Bahan: 
-1/2 kg tepung terigu 
-2 butir telur
-1/2 sdt garam
-125 ml minyak 
-1 sdm susu bubuk
-150 ml air hangat (bisa ditambah atau dikurangi, tergantung tingkat kelembapan yg diinginkan)
-mentega atau margarin secukupnya (untuk oles adonan)

Cara: 
-Campur terigu, garam, susu, telur dan minyak, aduk rata.
-beri air hangat sedikit-sedikit sambil diuleni sampai kalis.
-setelah kalis dibagi menjadi beberapa bagian lalu dibulatkan (masing2 seberat 70gr). 
-tutup dengan plastik wrap, diamkan sekitar 1-2 jam.
-Ambil masing2 adonan bulat lalu giling sampai tipis. Oles permukaannya dengan margarin.
-Gulung dengan cara melipat-lipat seperti membuat kipas dari kertas. kemudan gulung lagi dari sisi kanan maupun kiri, yg satu gulung menghadap ke bawah, yg satu ke atas, hingga membentuk seperti huruf 'S'. Lalu gulungan atas dan bawah disatukan hingga menyerupai konde/ sanggul. Lakukan semua sampai habis. (untuk lebih jelas bisa search di youtube)
-Diamkan kembali 30 menit.
-Siap dipanggang di wajan datar sampai warna berubah kecoklatan. Sebelum dipanggang dipipihkan terlebih dahulu, ketebalan tergantung selera.

Mantap banget makan roti cane ini sambil dicocol ke kuah karenya.. hmmmm ajiiibbb.. Si ayah sampe nambah dan nambah lagi, ga peduli perut sudah buncit. Roti Cane ini juga lezat disantap dengan susu kental manis. Silahkan dicoba resepnya.. :)

Rabu, 11 Maret 2015

Chocolate Heart Cookies (CHC)

Toples rumah nganggur alias kosong melompong, bikin malu deh kalau ada tamu. Mau beli ke luar males bo, hujan melulu tiap hari. Lagian repot juga kalau belanja keluar tanpa si ayah sambil bawa dua anak ini, satu balita yang aktif pisan ga mau diem, yang satu lagi masih orok yang laper atau bosen dikit langsung berisik owek-oweekk.. Yo wis langsung deh ubek-ubek lemari dapur, lumayan masih ada tepung terigu dan margarin, tapi telur? yaaa..habis cinn.. ah, gampang, untuk apa tinggal di samping warung kalo telur habis aja sampe pusing tujuh keliling..wkwkwkwk..

Hmm..bikin apa ya? Seketika langsung inget pernah lihat resep Basic Vanilla Cookie Dough punya Martha Stewart, dengan semangat berkobar langsung ngumpulin bahan dan praktek. Sempat bingung juga mau dibikin model apa si Vanilla Cookie ini? thumbprint kah? tiba-tiba tersadar eike punya cutter bentuk hati yang belum pernah dipake dan DCC yang masih berdiam diri nongkrong di lemari. Ok lah kita bikin CHC alias Chocolate Heart Cookies, haha ngarang-ngarang nama sendiri tapi wokehhh kaaann.. ini dia hasilnya: 


Hehehe.. agak berantakan ya?! yaa harap maklum lah, secara baking sambil ngurus 1 balita dan 1 orok itu bener-bener bikin kepala cekot-cekot. Resep aslinya bisa dilihat di sini, untuk memudahkan saya tulis ulang resepnya ke dalam bahasa Indonesia.


Basic Vanilla Cookie Dough (Martha Stewart)


Bahan:


3 cups tepung terigu serba guna/ protein sedang (saya pakai segitiga biru)
3/4 sdt baking powder (hilangkan jika membuat thumbprints, ball cookies, atau spritz cookies)
1/2 sdt garam (hilangkan jika menggunakan mentega atau margarin yang salted)
2 stick mentega tawar (saya pakai margarin asin/salted) ket: 1 stick mentega= 113,4g 
1 cup gula pasir
1 butir telur ukuran besar
2 sdt ekstrak vanili

Cara Membuat:


- Campur terigu, baking powder, dan garam dalam mangkuk besar. 
- di tempat lain, kocok mentega dan gula pasir dengan mixer pada kecepatan sedang-tinggi sampai pucat dan mengembang.
- Masukkan telur dan vanili, kocok kembali.
- Kurangi kecepatan mixer menjadi rendah, lalu tambahkan campuran tepung, kocok sampai rata.
- Bentuk atau cetak sesuai selera, lalu oven di suhu 150 derajat celcius sekitar 20-25 menit atau tergantung oven masing-masing.

untuk membuat Chocolate Heart Cookies ini saya menggiling adonan terlebih dahulu, kemudian mencetaknya menggunakan cutter bentuk hati. Setelah matang, cookies dicelupkan bagian atasnya ke dalam DCC yang sudah dicairkan. Masukkan dalam kulkas agar coklat cepat mengeras kembali.





Jumat, 19 Desember 2014

Impian Kecilku yang Besar

                Mimpiku tak terlalu tinggi, bukan karena aku seorang apatis. Melihat anak-anakku tersenyum dengan tubuhnya yang sehat sudah membuat hatiku tenang. Menyaksikan keluarga kecilku hidup rukun tanpa beban merupakan anugrah bagiku. Jadi, untuk ibu rumah tangga sepertiku rasanya tak perlu lagi aku mengidamkan sesuatu yang berlebihan, yang mungkin di luar jangkauanku.
                Meskipun mimpiku sederhana, namun tak mudah bagiku untuk mewujudkannya. Di balik keyakinanku akan terwujudnya mimpi sederhanaku itu, aku berjuang selayaknya seorang ibu dan istri yang mencintai keluarganya. Bukan dengan harta, bukan pula dengan sekedar tenaga. Aku mengerahkan segala insting yang kupunya dan memadukannya dengan perasaan dan pikiran.
                Tangis, tawa, bosan, semua silih berganti menghiasi perjuanganku itu. Ada kalanya suamiku justru menjadi penghancur semangatku karena seringkali kami berbeda pandangan dan pendapat. Jika sudah begini aku harus memikirkan cara lain yang tak akan mengobarkan nyala api dalam rumah tangga kami. Memertahankan pendapat demi sebuah prinsip memang perlu dilakukan, tapi tidak seharusnya aku mendorong egoku sampai mengorbankan keharmonisanku dengan suami. Jika itu terjadi maka pupuslah sudah mimpi sederhanaku, anak-anakku menjadi korban dan aku mendapat predikat ibu yang egois.
                Memang tak mudah dan perlu mental yang kuat. Bahkan untuk menjadi ibu rumah tangga seperti sekarang saja aku harus mengorbankan banyak hal. Pendidikanku yang tamatan S1 tidak terpakai sama sekali, ijazahku teronggok rapi di laci lemari pakaian. Tubuhku yang semasa gadis selalu ku rawat, kini hampir tak kupedulikan lagi karena tubuh indah dan kulit mulus bukan lagi menjadi tujuanku kini. Cukup perawatan sederhana dan tidak mempermalukan suamiku sudah cukup bagiku.  Seluruhnya kuutamakan untuk suami dan anak-anakku.

                Kelak aku yakin mimpiku akan kebahagiaan keluarga kecilku ini pasti terwujud, atau mungkin aku hanya perlu memertahankannya karena kini aku sudah merasakan kebahagiaan itu. Walau memang seringkali kobaran api memerlihatkan sedikit gejolaknya, jika itu terjadi aku kembali mencari pemadam dan berusaha menjadi penyejuk agar suasana kembali nyaman dan terkendali.

Rabu, 22 Oktober 2014

Menanti Kelahiran



Alhamdulilah kini usia kandungan telah memasuki usia 38 minggu, artinya sekitar 2 minggu ke depan anak ke dua saya akan lahir ke dunia. Harap-harap cemas pun melanda. Antara ingin segera melahirkan tapi juga ada rasa grogi menghadapi proses persalinan nanti.

Pada persalinan ke dua nanti dokter sudah mengatakan bahwa insyaAlloh saya bisa melahirkan secara normal. Kasus sungsang beberapa waktu lalu alhamdulilah telah teratasi karena berkat rajinnya sujud setiap hari serta doa dari sanak saudara, akhirnya janin dalam rahim saya bisa membalikkan tubuhnya ke posisi normal, meskipun dalam keadaan leher masih terlilit tali pusar. Saat terakhir USG pun lilitan itu masih ada, meskipun begitu dokter tetap meyakinkan saya insyaAlloh bisa melahirkan normal.. alhamdulilah..

Sekarang yang saya rasakan adalah nyeri di daerah punggung dan pinggang, terkadang juga terasa seperti ada tekanan ke arah bawah dan rasanya lumayan ngilu..terutama saat berjalan. Pernah beberapa hari yang lalu saya merasakan kontraksi yang lumayan sering setiap 20 menit sekali dan sekali kontraksi lamanya bisa sekitar 46 detik, saya menghitung menggunakan aplikasi android yang sudah terinstall jauh2 hari. Saya merasakan kontraksi itu sejak sore hingga subuh keesokan harinya. Rasanya berawal dari daerah pinggul kemudian naik ke atas dan menyebar ke perut..tapi tidak ada keluar lendir atau darah dan perlahan rasa mulas dan kontraksi itu hilang dengan sendirinya. Hufft.. saya kira saya akan melahirkan saat itu, ternyata belum waktunya.

Mungkin adiknya Alvin ini memang masih betah di dalam atau mungkin juga dia masih memberi waktu pada ayah dan mamanya untuk mencari nama untuknya. Ya, memang kami masih belum mendapatkan nama yang cocok, kecuali nama depan dan akhir insyaAlloh akan sama dengan nama Alvin. 

Tak sabar rasanya ingin segera melihat wajah anak ke dua saya karena setiap di USG wajahnya tidak pernah terlihat jelas, maklum hanya USG 2D. Sekarang yang bisa saya lakukan hanya berdoa agar segera dipertemukan dengan anak saya ini sambil terus berusaha memancing kontraksi dan mendorong jalan lahir, seperti jalan kaki, senam berdiri-jongkok, tidur miring ke kiri, 'hb' dengan suami..semoga saat-saat yang dinanti itu segera tiba,,amin yra..

Selasa, 30 September 2014

Sungsang Bikin Galau



Begini toh galaunya ibu hamil..ketika mengetahui hasil USG bahwa letak janin sungsang sejak usia 7 bulan. Nasehat dokter, perbanyak sujud dan dalam tempo yang lama, minimal 15 menit. Dalam prakteknya saya  selalu menyempatkan sujud selama yang saya mampu, kalau pegal di leher belum terlalu parah saya akan lanjut sujud bahkan sampai ketiduran. Sehari bisa sampai tiga sampai lima kali, yaa sesempatnya saya, maklum jadi ibu rumah tangga dengan anak balita dan tanpa ART itu benar-benar menyita banyak waktu saya di saat hamil ke dua ini. 

Kegalauan bertambah ketika beberapa hari yang lalu saya melakukan kontrol rutin ke dokter kandungan yang sudah masuk 2 minggu sekali di usia 34 minggu ini. Bagaimana tidak, hasil USG menyatakan bahwa janin dalam rahim saya masih tetap sungsang dan ternyata penyebab letaknya tetap sungsang itu adalah adanya 2 lilitan tali pusar di lehernya. Membayangkan ada satu lilitan tali pusar saja saya tidak pernah berani tapi kenyataannya lebih parah dari itu, ada 2 lilitan..yaa Alloh kenapa bisa begini...

Saya lihat wajah suami berubah cemas, dia pun menanyakan pada dokter perihal berbahaya atau tidaknya hal ini serta mengenai proses persalinannya kelak. Dokter mengatakan lilitan tali pusar dapat berbahaya bagi janin jika lilitannya erat, maka saya diwajibkan untuk terus memerhatikan gerakan janin setiap harinya. Dengan kartu gerak janin yang sudah diberikan pada kontrol sebelumnya saya harus terus mengawasi. Jika dalam 12 jam gerakan janin kurang dari 8 gerakan maka saya diwajibkan untuk segera mendatangi RS untuk kemudian dilakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa bayi dalam rahim saya. Mendengar hal itu saya semakin cemas karena perkataan dokter menandakan bahwa janin saya dalam keadaan yang bisa membahayakan nyawanya.

Lalu mengenai proses persalinannya dokter mengatakan akan sulit dan beresiko besar jika melalui persalinan normal. Letak sungsang serta terdapatnya 2 lilitan pada leher janin benar-benar kondisi yang sulit jika dilakukan persalinan normal. Resikonya janin bisa tercekik dan sulit mendapat pasokan oksigen dari tali pusar. Lain hal jika hanya terdapat lilitan tali pusar dan posisi yang normal, yaitu kepala di panggul (tidak sungsang), hal ini lebih memungkinkan dilakukan persalinan normal. 

Saya langsung lemas mendengarnya, saat itu saya berusaha untuk tidak menangis, jujur saya ingin sekali melahirkan normal seperti anak pertama saya Alvin. Saya takut jika harus melakukan operasi karena yang saya tahu operasi caesar lebih banyak resikonya..tapi jika memang itu jalan satu-satunya untuk keselamatan anak saya yaa mau bagaimana lagi saya pasrah.

Beruntung dokter kandungan saya masih menyemangati saya dan memberi saya harapan. Dokter menyarankan saya untuk terus rajin bersujud, bahkan beliau menambahkan sambil bersujud sambil berdoa dan berdzikir, "Insya Allah, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, jadi mohon pertolongan sama Allah. Yakin dan terus berusaha." Itu perkataan menyejukkan yang dikatakan dokter. Sungguh mengobati sedikit kecemasan saya. Beruntung dokter yang saya pilih ini bukan tipe dokter yang main langsung vonis harus caesar. Justru dokter menyarankan saya untuk optimis, ikhtiar dan berdoa.

Sekarang walaupun kemungkinannya kecil untuk bisa berubah posisi dalam keadaan leher terlilit, namun saya tetap mengikuti saran dokter. Tiap hari saya masih rajin memperlama sujud, ketika shalat pun sujudnya diperlama. Berdoa itu sudah pasti, selain itu juga saya sering berbicara pada janin diperut saya agar dia mau berusaha melepaskan lilitan di lehernya, Alvin pun kadang-kadang ikutan berbicara pada adiknya di perut sambil mengelus perut saya..Hal ini menguatkan saya untuk terus optimis bahwa keadaan akan lebih baik. Semoga saja...